Ibnu Jauzi Rahimahullah
Talbis adalah menampakan kebathilan dalam bentuk kebenaran. Sedangkan ghurur adalah suatu kebodohan (ketidak tahuan) yang mengakibatkan seseorang meyakini suatu kesalahan sebagai kebenaran dan suatu keburukan sebagai kebaikan. Semua ini terjadi karena adanya syubhat yang mengakibatkan munculnya keyakinan seperti itu. Tolak ukur keberhasilan iblis saat menggoda manusia bergantung pada peluang yang dimilikinya. Hal ini bergantung pada tingkat kewaspadaannya dan tingkat kelalaiannya, serta tingkat keilmuannya dan tingkat kejahilannya..
Ketahuilah, Hati ibarat Benteng yang dikelilingi pagar, di pagar itu ada beberapa pintu gerbang dan sejumlah celah. Benteng ini dihuni oleh akal, serta sering dikunjungi malaikat. Disamping benteng terdapat tempat persinggahan yang dihuni oleh hawa nafsu. Dan, para syetan biasa mondar-mandir ke tempat persinggahan itu, tanpa ada penghalang sedikitpun. Diantara penghuni benteng tersebut dan penduduk tempat persinggahan telah terjadi peperangan yang terus berkecamuk. Karena itulah para syetan pun terus mengelilingi benteng tersebut, sambil mencari-cari kelalaian para penjaga dan menunggu kesempatan untuk bisa masuk melalui celah yang ada.
Maka seharusnya si penjaga mengetahui semua pintu gerbang dan celah yang ada, karena dia ditugaskan untuk menjaganya. Jangan dia lengah dalam menjaganya, walau sekejap pun. Pasalnya, pihak musuh tidak pernah mengendurkan teror dan ancamannya.
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan al-Bashri rahimahullah : “Apakah iblis bisa tidur?” mendengar pertanyaan itu Hasan menjawab : “Seandainya ia tidur, niscaya kita bisa istirahat.”
Benteng itu diterangi dengan dzikir dan disinari dengan keimanan. Di benteng ini terdapat cermin mengkilap, yang memantulkan apapun yang melintas dihadapannya. Yang pertamakali dilakukan syetan di tempat persinggahannya adalah menciptakan asap sebanyak mungkin supaya dinding benteng tersebut menghitam serta memburamkan cermin. Namun asap ini bisa diusir dengan kesempurnaan fikiran, dan cermin kotor bisa dikilapkan kembali dengan dzikir.
Pihak musuh tak henti-hentinya mengintai benteng hati ini. Terkadang mereka melakukan serangan dan berhasil memasukinya, akan tetapi sang penjaga berhasil menghalau dan mengusirnya. Namun terkadang mereka berhasil masuk dan merusak apa yang ada dalam benteng. Bahkan terkadang mereka tinggal di dalamnya, semata-mata karena kelalaian sang penjaga. Adakalanya angin yang biasa menghalau asap itu tidak terhembus, sehingga asap itupun begitu banyak dan pekat hingga menjadikan benteng hitam dan cermin pun buram. Akibatnya, tatkala syetan lewat di hadapannya, tidak ada penjaga yang mengetahuinya.
Terkadang sang penjaga terluka karena kelalaiannya, hingga dia pun ditawan dan diperbudak oleh musuh. Bahkan kadang-kadang dia ditugaskan untuk mencari-cari alasan pembenaran untuk mengikuti dan membantu hawa nafsu. Maka tidak heran jika ia tampil bak seorang pakar keburukan.
Seorang ulama salaf berkata : “Aku pernah melihat syetan, dia berkata padaku: ‘Dulu aku menemui manusia untuk mengajari mereka, tapi sekarang aku menemui kereka untuk belajar dari mereka'”
Terkadang syetan menyerang orang yang pandai dan cerdas dengan cara menggandeng si pengantin hawa nafsu yang telah didandani nya. Akibatnya orang cerdas itu sibuk memperhatikannya hingga akhirnya syetan berhasil menawannya.
Tali yang kuat untuk mengikat tawanan adalah tali kebodohan, tali yang sedang adalah hawa nafsu, serta yang paling lemah adalah tali kelalaian. Namun selama baju besi keimanan masih membungkus diri orang mu’min, maka anak panah musuh niscaya tidak akan pernah dapat menembusnya.
Al-Hasan bin Shalih rahimahullah berkata : “Sesungguhnya syetan membuka 99 pintu kebaikan untuk dapat membuka satu pintu keburukan.”
Al-A’masy mengutarakan: “Seorang laki-laki menceritakan pada kami, bahwa ia pernah berbicara dengan bangsa jin, Jin-jin itu berkata: ‘Tidak ada yang paling sulit kami sesatkan melebihi orang yang mengikuti sunnah. Sedangkan para pengikut hawa nafsu dan ahli bid’ah kami benar-benar mampu mempermainkan mereka.”
Maka itu, perlunya kita berhati-hati dari tipu daya iblis, dengan mempelajari berbagai jerat perangkapnya. Karena mengetahui itu semua merupakan salah satu cara agar terhindar dari keburukan tersebut. Disebutkan dalam kitab Shahihain dari Hudzaifah ra berkata: “Orang-orang biasa bertanya kepada Rosulullah saw tentang kebaikan, aku biasa bertanya kepada beliau tentang keburukan. Ini karena aku hawatir keburukan itu akan menimpaku…”
Dikutip dari buku:
Talbis Iblis – Ibnu Jauzi rahimahullah