Ada seorang anak kecil sekolah dasar yang sedang bersemangat mempelajari agama & menghafal Alquran.. Suatu ketika ia akan berangkat untuk pergi ke suatu majlis ilmu.. Karna sadar sudah hampir terlambat ia pun bergegas memasukan Alquran & alat tulis nya ke dalam tas dengan sigap langsung menggendong tas itu dan berlalu di hadapan ibu nya begitu saja..
Ibunya yg sedang menyapu lantai yg sedari td memperhatikannya berusaha menegurnya dan berkata.. “Hey hey.. Mau kemana? Masa mau belajar pake baju begitu.. Nggk pamit nggk apa.. Ganti sana.. Pake baju yg baik..” anak itu pun kembali masuk dengan bermuka masam ingin mengeluh tapi malas berkata sambil mengganti bajunya.. Tak puas dengan perkataannya dan melihat muka malas anaknya sang ibu menambahkan.. “sudah berapa kali dikasih tau ko gk ngerti aja.. Kan udh belajar gimana adab nya klo mw belajar…. Makanya dari tadi persiapan bukan malah main dipanggil-panggil kyk gk denger…. (bla..bla..bla..)
Sebagai orangtua yang berharap perubahan adab pada anaknya, kita semua pasti pernah mengalami hal seperti cerita diatas.. Tp nyatanya itu tidak memberi perubahan atau mungkin hanya memberi perubahan beberapa saat saja.. Setelah itu anak kembali melakukan kesalahannya..
Minimnya referensi kita dlm parenting islam yg bersumber dari literatur islam, ditambah kurang nya keberkahan ilmu membuat kita selalu berputar pada masalah yg sama..
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim dijelaskan salah satu cara agar kita mendapat keberkahan ilmu yg kita pelajari yaitu dengan merenungkannya.. Bermuhasabah dan berfikir bagaimana bersikap dengan ilmu tersebut hingga melahirkan suatu amal baik..
Mari kita coba renungkan satu yg mungkin sudah sering kita dengar/ baca. Imam Malik Rahimahullah mengisahkan,
قال مالك: قلت لأمي: ” أذهب، فأكتب العلم؟ “، فقالت: ” تعال، فالبس ثياب العلم “، فألبستني مسمرة، ووضعت الطويلة على رأسي، وعممتني فوقها، ثم قالت: ” اذهب، فاكتب الآن “، وكانت تقول: ” اذهب إلى ربيعة، فتعلًّمْ من أدبه قبل علمه
“Aku berkata kepada ibuku, ‘Aku akan pergi untuk belajar.’ Ibuku berkata, ‘Kemarilah!, Pakailah pakaian ilmu!’ Lalu ibuku memakaikan aku mismarah (suatu jenis pakaian) dan meletakkan peci di kepalaku, kemudian memakaikan sorban di atas peci itu. Setelah itu dia berpesan, ‘Sekarang, pergilah untuk belajar!’ Dia juga pernah mengatakan, ‘Pergilah kepada Rabi’ah (guru Imam Malik)! Pelajarilah adabnya sebelum engkau pelajari ilmunya!’.” (‘Audatul Hijaab 2/207, Muhammad Ahmad Al-Muqaddam, Dar Ibul Jauzi, Koiro, cet. Ke-1, 1426 H, Asy-Syamilah)
Mari kita belajar dari ibunda imam Malik Rahimahullah, jika kita perhatikan riwayat tersebut kita akan bisa menemukan beberapa poin :
1. Memanggil
Diawal kisah disebutkan bahwa Imam Malik meminta izin pada ibunya untuk pergi ke majlis ilmu.. Namun ketika sang ibu melihat beliau tidak berpakaian baik, ia tidak menyuruh anaknya untuk segera mengganti bajunya tapi memanggilnya “Kemarilah…”
2. Bahasa yang indah
Orang bilang “Dibelakang laki-laki yang hebat pasti ada perempuan yang luar biasa”
Tidak hanya memanggil, sang ibu pun menyiapkan pakaiannya.. Tak hanya ingin anaknya terlihat rapi tapi juga mengharapkan keberkahan dari ilmu-ilmu beliau kelak ketika dewasa, sang ibu yang luar biasa ini berkata :
“Pakailah pakaian ilmu”
Adakah perkataan yang lebih indah dari perkataan ini ketika seorang ibu memakaikan pakaian untuk anaknya?
3. Memperlakukan dgn baik
Mengajarkan kemandirian itu penting, disamping tidak memanjakan anak. Walaupun terkadang kita suka keliru tanpa disadari membiasakan anak untuk mandiri dlm hal baik tapi memanjakannya dlm hal dunia seperti memberikan apa yang anak inginkan, membekali uang yang lebih, dsb.. Tak heran yang mereka angan-angankan adalah liburan, mainan, uang jajan, sedangkan dlm melakukan kebaikan mereka dituntut untuk selalu mandiri..
Berbeda dengan Ibu yang satu ini, ia memakaikan pakaian yang terbaik pada anaknya yang akan pergi ke majlis ilmu..
4. Detail
Tidak hanya memakaikan mismarah itu pada anaknya, sang ibu juga memakaikan peci, meletakannya diatas kepala anaknya dan memakaikan sorban diatas peci itu..
Dalam siroh Nabi, banyak dikisahkan bagaimana Rosulullah saw seringkali menggabungkan do’a nya dengan interaksi fisik, seperti mendo’akan sahabat sambil memakaikan sorban/ pakaian, atau sembari mengusap kepala & badan..
5. Nasehat
Seringkali kita bosan untuk memberikan nasehat pada anak karna menganggap anak tidak mendengarkan, bahkan mungkin sampai beranggapan bahwa nasehat tidak akan merubah perilakunya.. Padahal nasehat adalah salah satu metode yang sering digunakan Rosulullah saw dalam menyampaikan ilmu.. Tapi kenapa kadang kita merasa nasehat kita itu sia-sia.. Apakah ada yang salah dengan nasehatnya atau ada yang salah dengan kita (pemberi nasehat) nya?
Perhatikanlah jika nasehat itu keluar dari hati yang ikhlas & mengharap ridho Allah (bukan hanya mengharap perubahan pada anak) maka nasehat itu tidak hanya menginspirasi sang anak bahkan menginspirasi ummat sepeninggalannya..
Kalimat yg dipakai sang ibu adalah فتعلم من أدبه bukan تعلم منه الأدب seperti yg ada pada kisah-kisah lainnya.. Maka makna yg paling tepat adalah “Pelajarilah dari adabnya” atau “Pelajarilah adabnya” maksudnya adalah bukan hanya meminta gurunya untuk mengajarkan adab.. Tetapi mempelajari & mencontoh dari perilaku & adab sang guru..
Dari kisah diatas kita bisa mengambil pelajaran berharga.. Namun sebetulnya yg kita butuhkan bukan seberapa mahal pelajaran itu tapi seberapa banyak yg bisa kita lakukan dari pelajaran tersebut.. Hingga kita dapat mengambil hikmah & keberkahan darinya..
Kita sadar kita bukanlah guru selevel Rabi’ah yg kemuliaan akhlaknya tdk diragukan lg.. Kita pun hanya org tua biasa tak seperti Ibunda imam Malik yg keikhlasannya membawa hikmah bagi ummat ini selama ratusan tahun.. Anak kita pun bukanlah sehebat Imam Malik yg keberkahan ilmunya mengalir hingga akhir zaman..
Namun jika kita punya mimpi yg sama kita bisa mulai bersama dari hal yg terkecil.. Kita tak punya banyak waktu untuk sibuk menilai kelemahan seseorang tapi kita punya cukup waktu untuk berusaha melakukan yg terbaik..
“Generasi ini takkan membaik kecuali dengan mengikuti cara bagaimana generasi sebelumnya diperbaiki”
Imam Malik Rahimahullah
Semoga kita menjadi orang tua & Guru yg diridhoi Allah & dirindukan Rosul-Nya..
