Anak belum mengerti tentang bahagia.. Artinya orang tua yg mengajarkan mereka apa itu bahagia..
Masalah nya setiap org tua punya persepsi sendiri tentang bahagia..
Jika bahagia yg diajarkan adalah kesenangan, kepuasan bermain, kebebasan waktu, dll.. Maka hal-hal itu juga yg akan mereka cari ketika mereka dewasa..
Org bilang bermain itu dunia nya anak-anak.. Gak salah sih.. Tapi jangan artikan anak bisa sepuasnya bermain karna main gaada puasnya.. Sampai ia dewasa pun selama manusia hidup tak akan puas bermain karna bermain adalah salah satu sifat dunia..
وماالحياة الدنيا إلا لعب ولهو
“Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau”
Para pelaku Homeschooler (Pesekolah rumah) pada umumnya justru berpandangan bahwa Belajar adalah dunia anak. Banyak alasan yg bisa diutarakan, seperti teori Golden age pada umur tertentu, dlsb. Seorang penulis buku tentang Homeschooling mengatakan :
“You don’t need to be a professional theacher for your children when you choose the Homeschooling. The children are naturally learner while you are as a parent are naturally teacher”
Artinya anak secara natural adalah pembelajar karna rasa keingintahuan nya yang tinggi..
Alangkah bahagianya orangtua jika anaknya lebih senang belajar dari pada bermain.. Seperti Nabiyullah Yahya as. yang diberikan hikmah bisa mempelajari Al-Kitab diusia 3 tahun.. Pada masa kecilnya beliau lebih suka belajar & tidak suka bermain, sampai ketika teman seusianya mengajak bermain, Yahya kecil berkata : “Bukan untuk Bermain aku diciptakan”
Ah.. Itu kan seorang nabi yang diberikan hikmah..
Jangan salah, nabi juga manusia sama seperti kita, kesholehan para nabi diwariskan kepada para ulama, begitu juga kepintarannya diwariskan kepada orang-orang pintar sampai saat ini.. Masih ingat cerita Bpk. B.J. Habibie bagaimana masa kecilnya beliau senang sekali belajar.. Sampai mencuri waktu bermainnya untuk belajar..
Begitulah contoh anak-anak yang bahagia dengan waktu belajarnya.. Trus, kenapa anak kita gak sehebat itu? Salah satu jawabannya karna kita juga tak sehebat orangtua & guru mereka.. Bahkan untuk percaya saja pun sepertinya kita masih sulit & terlalu banyak alasan.. Akhirnya anak kita lebih banyak main daripada belajar.. bahkan mencuri waktu belajarnya untuk bermain..
Jadi, Pintar ada waktunya bagi yang menghendaki.. Sebagaimana Allah memberikan hidayah hanya kepada hambanya yang menghendaki..
soal teori Bahagia.. Tidak sepenuhnya salah, saya jadi ingat Ust. Felix Siau yang merepresentasikan Dakwah dengan kalimat “Share your happiness” yaitu berbagi kebahagiaan.. Karna secara fitrah, dakwah/ mengajak kepada islam & syari’at nya bukan lah beban hidup.. Tapi islam adalah kabar gembira yang datang dari Allah SWT yang dibawa oleh hamba dan utusannya yang Mulia, sebagai rahmat bagi seluruh alam..
Maka ajarkanlah kebahagiaan itu.. Ajarkan keindahan islam dan manisnya iman sebagaimana kita bahagia & bersyukur atas nikmat iman & islam.. Ajarkan nikmatnya sholat sebagaimana kita menikmati sholat di sepertiga malam.. Tanamkan cita-cita untuk berjuang demi agama sebagaimana mimpi kita akan tegak nya kembali islam dibawah panji Laa ilaaha illallah..
Bukan mimpi-mimpi dunia yang menghanyutkan anak-anak kita kedalam lautan penyesalan..
