Kalaupun Rasulullah saw. harus ummy (tidak bisa baca tulis), itu karena beliau harus seperti itu. Karena itu adalah salah satu tanda kenabian beliau, beliau disebut Ummy sejak dalam kitab Taurat dan Injil.
“Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummy yang namanya mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.” (QS. Ala’rof:157)
Apalagi tuduhan orang-orang yang tidak beriman mengatakan bahwa Alquran adalah buatan tulisan Muhammad, maka Allah SWT. berfirman;
“Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya suatu kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Andai kata kamu pernah membaca dan menulis, benar-benar ragu lah orang-orang yang mengingkarimu.” (QS. Alankabut:48)
Untuk itulah, tidak bisa baca tulis adalah kesempurnaan untuk beliau saw. yang berarti hanya berlaku untuk beliau saja, namun tidak untuk umatnya. Karena untuk umat nya perintah yang pertama kali adalah IQRO yang artinya Bacalah! Perintah ini bahkan diturunkan sebelum perintah sholat dan yang lainnya.
Kemampuan membaca adalah cermin kualitas ilmu sebuah generasi. Jika sebuah bangsa memiliki kekuatan membaca yang kuat, maka bangsa itu sedang menyongsong kebesarannya. Sebaliknya, kemunduran sebuah generasi terlihat dari lemahnya minat baca.
Maka, menjadi PR yang sangat serius bagi setiap pendidik untuk memulai dirinya dengan senang membaca dan mengawal anak didiknya untuk memiliki kekuatan dalam membaca. Tugas pendidik juga harus menyingkirkan segala sesuatu yang memalingkan kita dari cinta membaca. Pragmatisme menuntut ilmu dan teknologi menjadi faktor pemalingnya, seperti permainan yang melalaikan. Jika otak telah dilatih untuk santai dengan permainan atau hal yang melalaikan, maka mana mungkin otak mau berfikir berat dengan membaca ilmu.
Selanjutnya menulis adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh generasi islam. Sentuhan awalnya dengan pena, pena yang menggoreskan setiap barisnya hingga menjadi petunjuk bagi seluruh manusia.
Mari kita lihat sebagian fakta sejarah saat dunia masih dalam genggaman muslimin, bagaimana mereka berinteraksi dengan buku, antusiasme membaca dan menulis yang sangat kuat. Di kota Fes Maroko pada tahun 600 H terdapat 200 toko buku yang menjual transkip-transkip buku, itu hanya di satu kota saja, bandingkan dengan satu kota di negeri kita ini, bukan sekedar jumlah toko saja tetapi antusias untuk membeli dan membaca buku juga rendah di negeri kita ini.
Pada abad 2H/9M islam mengajari dunia dengan membangun perpustakaan umum terbesar di dunia untuk pertama kalinya, Baitul Hikmah di Baghdad. Sebuah perpustakaan yang sangat besar dan lengkap, ramai sekali pengunjungnya. Jumlah buku yang tak terhitung, cukuplah menjadi gambaran yaitu ketika tahun 656 H pasukan Mongol menghancurkan Baitul Hikmah, sungai Dijlah yang begitu lebar dipenuhi buku yang dibuang dan dijadikan penyebrangan untuk menyebrangkan pasukan Mongol dan pasukan berkuda yang jumlahnya sangat banyak. Nah, bayangkan berapa banyak jumlah buku yang dihancurkan? Sangat banyak sekali.
Di Kairo Mesir terdapat perpustakaan Daarul Ilmi, di dalam nya ada 40 bagian yang setiap bagian nya ada 18.000 buku, jika dijumlah lebih dari 700.000 buku dalan satu perpustakaan. Padahal Daarul Ilmi bukan satu-satunya perpustakaan di Kairo.
Perpustakaan Qordoba di Andalus (Spanyol hari ini) dulu terdapat 500.000 buku. Gabungan perpustakaan-perpustakaan di Tropoli Syam (sekarang Libanon) terdapat 3.000.000 buku yang kemudian dibakar oleh pasukan salib di lapangan Tripoli.
Tidak hanya perpustakaan umum, perpustakaan pribadi juga menunjukan antusias masyarakat terhadap buku. Abu Fadhl bin Amid (360 H) mempunyai buku dimana untuk memindahkan bukunya dibutuhkan 100 ekor unta. Ash Shahib (385 H) juga memiliki buku dalam jumlah yang sangat banyak, seorang sejarawan Amerika mengatakan bahwa jumlah bukunya lebih banyak dari jumlah buku di seluruh eropa pada zamannya. Cukup! Cukuplah ini menjadi pelajaran;
- Kebesaran Islam selalu beriring sejalan dengan kesadaran besar membaca dan menulis.
- Musuh Islam sadar betul bahwa buku adalah kunci peradaban, maka tak segan-segan Mongol dan Salib menghancurkan perpustakaan muslimin.
- Kita harus segera memulai, bangkitkan kembali semangat membaca dan menulis. Agar peradaban Islam segera bisa kita hadirkan.
Itulah mengapa di dalam Kurikulum Kuttab pelajaran membaca merupakan salah satu pembelajaran awal. Selanjutnya akan belajar menggerakan jari-jemari untuk menggoreskan pena sampai menghasilkan karya-karya yang lahir dari ilmu dan Iman.
Yaa Allah bimbinglah kami..